Selasa, 26 April 2011

* PGRI: Jangan Berkongsi Menjawab Soal

BANDA ACEH - Sebanyak 63.720 siswa SMA/MA/SMK se-Aceh mulai hari ini bertarung untuk bisa lulus Ujian Nasional (UN) yang dilaksanakan serempak di seluruh Indonesia.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Bakhtiar Ishak kepada Serambi mengatakan Minggu (17/4) kemarin, pihaknya sangat mengharapkan para siswa menyelesaikan soal-soal ujian dengan teliti dan menggunakan alat bantu ujian yang sudah disediakan. 

Menyangkut lembaran soal ujian dan LJK, kata Bakhtiar, seluruhnya sudah tiba di masing-masing daerah dan sebagian sudah didistribusikan ke sekolah dengan pengawalan khusus oleh aparat kepolisian.

Kadisdik juga mengingatkan para siswa agar tidak ada yang membawa handphone (hp) ke ruang kelas. “Kita harapkan para pengawas tidak mengizinkan siswa untuk membawa alat bantu, termasuk hp, kecuali yang sudah disediakan seperti rol, pensil, dan stip,” katanya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh, Ramli Rasyid MPd meminta pelaksanaan UN tahun 2011 ini yang dijadwalkan dimulai Senin (18/4) betul-betul bersih dari hal-hal yang tidak terpuji. “Kita berharap tidak ada perkongsian dalam pengerjaan soal-soal ujian nasional tahun ini,” kata Ramli Rasyid kepada Serambi kemarin.

Kecuali kepada guru, Ramli juga mengimbau para siswa untuk tidak pernah percaya terhadap adanya isu “kunci jawaban UN” yang beredar dan sedang diperjualbelikan. “Isu itu hanya untuk mengecoh siswa. Hampir saban tahun isu tersebut beredar,” tegas mantan Kadis Pendidikan Kota Banda Aceh ini.

Sementara itu, Kadisdik Abdya, Maiyuli RH SPd yang dihubungi Serambi kemarin mengatakan, 2.139 siswa SMA/MA/SMK se-Abdya tahun ini akan mengikuti UN. Sebelum ikut UN, para siswa telah dipersiapkan secara matang dengan mengikuti ramedial teaching dan try out. 

Didampingi Ketua Panitia Pelaksana, Drs Sabihismiruddin dan Sekretaris Disdik, Jasman HS SPd, Maiyuli RH menjelaskan, peserta UN yang berjumlah 2.139 orang, meliputi 1.797 siswa SMA/MA dan 342 peserta SMK dengan melibatkan 252 pengawas. 

Sementara itu. dari Aceh Tengah dilaporkan UN tingkat SMA/MA/SMK tahun ini diikuti 2.366 siswa yang disebar di 252 ruang kelas di 14 kecamatan di Dataran tinggi Gayo.

Menurut Kadisdik Aceh Tengah, Drs Nasaruddin, peserta UN terdiri atas SMA 1.478 siswa, MA 503 siswa, dan SMK 385 siswa. Untuk keamanan soal bagi sekolah yang letaknya berjauhan dengan Takengon seperti Jagong Jeget, Linge, Atu Lintang, Kute Panang, Rusip Antara, Ketol, Bintang dan Kecamatan Celala, ditempatkan di mapolsek terdekat, sedangkan yang lainnya disimpan di Mapolres Aceh Tengah. 

Pelaksanaan UN untuk peseta SMA/MA selama empat hari. Hari ini, dimulai pukul 08.00 WIB, peserta SMA/MA jurusan IPA (Bahasa Indonesia dan Biologi), IPS (Bahasa Indonesia, Sosiologi).

Selasa (19/4) IPA dan IPS (Matematika). Rabu (20/4) IPA (Bahasa Inggris, Kimia) IPS (Bahasa Inggris, Geogafi), dan Kamis (21/4), IPA (Fisika) dan IPS (Ekonomi). Sementara UN SMK dilaksanakan tiga hari, Senin (18/4) (Bahasa Indonesia), Selasa (19/4) (Matematika), dan Rabu (20/4) (Bahasa Inggris). 

Hari ini, sebanyak 13.055 siswa SMA/MA/SMK di Bireuen juga mengikuti UN. Lembaran soal sudah disimpan di mapolsek masing-masing. Paginya baru dibawa oleh kepala sekolah ke sekolah bersangkutan.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Kabid Dikmen) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Bireuen, M Nasir, mengatakan, berdasarkan data yang ada, peserta UN untuk jenjang SMA/MA di kabupaten itu saat ini sebanyak 5.110 orang, ditambah dari SMK/SPK 697 orang.

M Nasir mengatakan hal itu kepada Serambi saat ia mengawasi penurunan lembaran soal dari truk ke gudang penyimpanan sementara, Minggu (17/4) pagi.

Disebutkan juga bahwa peserta ujian hari ini mengikuti ujian di sekolah masing-masing. Sedangkan para pengawasnya diberlakukan sistem silang, dalam artian berasal dari sekolah lain, ditambah pengawas dari Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

Menyangkut ketibaan lembaran soal, kata M Nasir, sedikit terlambat tiba di Bireuen, karena truk pengangkut lembaran soal mengalami musibah dalam perjalanan dari Medan ke Bireuen. “Awalnya lembaran soal akan masuk ke Bireuen pagi Sabtu, ternyata truk yang ke Bireuen  kecelakaan di Medan. Truk baru bergerak lagi malam hari dan tiba di Bireuen, pukul 05.30 WIB, Minggu kemarin,” kata M Nasir.

Agar tidak terjadi keterlambatan ke sekolah, saat penurunan berkas soal dan lembar jawaban kemarin langsung dipisahkan dan kepala sekolah bersama masing-masing polsek menjemputnya ke gudang.  

Panitia UN, katanya, terpaksa kerja maraton agar seluruh lembaran soal tidak terlambat sampai ke sekolah pagi ini dan pagi-pagi berikutnya.  UN se-Aceh tahun 2011, seluruhnya diikuti oleh 237.918 siswa, terdiri atas siswa SMA/MA 53.412, siswa SMK 10.208, SMP/MTs 84.844, dan SD/MI 89.724 siswa. (sir/min/nun/yus)
 

Sabtu, 23 April 2011

KURS DOLAR DAN PERDAGANGAN DUNIA

Sekelompok ilmuwan yang mendalami masalah proyeksi ekonomi berkumpul di gedung pusat PBB New York awal minggu ini. Proyeksi ekonomi tiap wilayah di dunia disampaikan, dan secara umum ada kesepakatan (disamping banyak ketidak-sepakatan) bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan sedikit lebih baik dalam dua tahun mendatang. Meskipun angka pasti yang disepakati semua pihak belum tercapai, namun semua setuju bahwa ekonomi dunia akan tumbuh di atas 3 persen baik tahun ini maupun tahun depan.
Perdebatan tentang kecenderungan perdagangan dunia tergolong paling menarik dalam pertemuan tersebut, paling tidak karena dua hal: fluktuasi yang begitu tajam dalam 5 tahun terkahir, dan perubahan nilai tukar (misalnya dolar AS terhadap Yen) yang sulit diprediksi dengan tepat.
Kalau diamati selama 5 tahun terakhir, laju perdagangan dunia menunjukkan kenaikan luar biasa (hampir 12 persen) pada tahun 1994. Tentu banyak yang dapat diajukan sebagai faktor penyebab. Namun, kalau dilihat sumber pertumbuhan berdasarkan tiap sektor, kecenderungan yang paling menonjol saat itu adalah kenaikan perdagangan barang elektronik seperti komputer dan komponennya, termasuk semi-konduktor, yang sangat luar biasa. Karena sektor ini yang menonjol, maka apapun yang terjadi dengan sektor tersebut akan otomatis mempengaruhi gambaran perdagangan dunia. Dan ini dibuktikan oleh gambaran tahun lalu.
1996 tercatat sebagai tahun buruk bagi prestasi perdagangan dunia, karena pertumbuhan yang dicapai hanya 5.7 persen (dihitung dari volume impor), merosot dari 9.5 persen yang terjadi pada tahun sebelumnya. Salah satu penyebab kemerosotan tersebut adalah kelesuan di sektor elektronik; jadi, persis kebalikan dari apa yang terjadi tahun 1994!
Tentu saja penjelasan lain perlu diperhitungkan, seperti misalnya perubahan nilai tukar. Sebenarnya tidak mudah melihat pengaruh nilai tukar terhadap perdagangan dunia, karena tiap negara mempunyai komposisi negara tujuan (untuk ekspor) dan negara asal (untuk impor) yang berbeda. Akibatnya, jenis mata uang asing yang perlu diperhitungkan juga tidak sama. Namun, mengingat dolar AS mempunyai pengaruh paling besar, pergerakan mata uang ini menjadi faktor penentu perdagangan dunia.
Pada tahun 1994 nilai dolar merosot, baik terhadap Yen maupun DM (dua mata uang lain yang juga paling berpengaruh dalam perdagangan dunia). Nilai Yen mencapai 102 dan nilai DM sebesar 1,62 per satu dolar AS. Tahun sebelumnya, nilai tersebut masing-masing 111,2 dan 1,65. Ternyata, dolar yang merosot diikuti oleh membaiknya perdagangan dunia seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.
Apakah keadaan sebaliknya akan terjadi kalau seandainya dolar menguat? Berdasarkan perkembangan tahun lalu, jawabannya: ya! Para pedagang valas masih ingat benar bagaimana tahun lalu nilai dolar menguat sampai ke tingkat yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Nilai Yen melemah dari 94 ke 109, dan nilai DM juga melemah dari 1,4 menjadi 1,5 terhadap dolar AS. Bukan kebetulan kalau prestasi perdagangan dunia juga buruk tahun lalu.
Bagaimana kaitan cerita di atas dengan wilayah Asia Pasifik termasuk ASEAN, dan Indonesia? Di wilayah ini jelas kurs Yen terhadap dolar lebih menentukan. Jadi, pergerakan kurs tersebut dapat dipakai sebagai salah satu determinan dalam membuat perkiraan volume perdagangan. Yen yang lemah memperbaiki daya saing eksportir Jepang vis-a-vis eksportir negara lain, termasuk negara di kawasan Asia Pasifik. Bagi negara yang mengekspor produk serupa (kompetitif) dengan ekspor Jepang, ini kabar buruk, karena mereka cenderung kalah bersaing dengan eksportir Jepang.
Apakah kenyataannya demikian? Ternyata memang prestasi ekspor banyak negara di Asia Pasifik memburuk tahun lalu, sehingga kepanikan karena kenaikan defisit neraca berjalan kita dengar di mana mana: dari Thailand, Malaysia sampai ke Indonesia, meskipun sebenarnya bagi Indonesia pukulan di sektor ekspor tidak karena Yen yang menguat tapi lebih karena faktor domestik.
Mungkin pengaruh melemahnya Yen bagi Indonesia lebih banyak berupa pengurangan arus investasi Jepang yang dapat diharapkan. Kalau gejala kurs yang sekarang bersifat sementara, maka praktis kekuatiran tersebut tidak terlalu perlu dipikirkan, karena keputusan investasi lebih bersifat jangka panjang, tidak seperti keputusan mengekspor. Sebaliknya, keuntungan bagi kita jelas terjadi dalam bentuk pengurangan nilai dan pembayaran bunga hutang luar negeri. Pertanyaannya, apakah benar gejala kurs Yen/dolar yang sekarang bersifat hanya sementara?
Banyak yang ingin mengetahui bagaimana kecenderungan Yen/dolar tahun ini dan tahun depan. Pertanyaan ini tidak hanya penting untuk membuat perkiraan volume perdagangan, jadi juga pertumbuhan ekonomi, tapi juga, dengan sangat disesalkan, sering dimanfaatkan oleh pemain valas yang suka berspekulasi untuk memperoleh keuntungan mendadak (windfall profit).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kurs Yen/dolar. Salah satu faktor adalah posisi neraca perdagangan AS (defisit) dan Jepang (surplus). Kalau diamati defisit perdagangan AS selama dua kuartal tahun lalu, yaitu kuartal 1 dan kuartal 4, ternyata defisit mereka menurun tajam. Lebih menarik lagi, penurunan tersebut terjadi dimuka kenaikan impor, karena kuatnya permintaan domestik. Jadi, prestasi ekspor AS relatif bagus. Mungkin karena faktor ini kongres dan pembuat kebijakan di AS enggan melakukan intervensi terhadap kecenderungan dolar yang menguat.
Dalam 4 tahun terakhir ekonomi AS memang cukup stabil, dan bahkan dalam 2 tahun terakhir mencapai kondisi yang oleh para ekonom sering dianggap "ideal," yaitu pertumbuhan relatif tinggi, tingkat pengangguran turun, dan inflasi rendah. Kenaikan tingkat bunga 0.25 persen yang diumumkan Federal Reserves minggu inipun tidak akan membuat pertumbuhan ekonomi mereka menurun tajam. Sebaliknya, ekonomi Jepang tidak mampu secara meyakinkan bangkit dari resesi, dan bahkan pertumbuhan tahun ini diperkirakan akan lebih buruk lagi karena mulai bulan depan (April) pajak konsumsi akan dinaikkan. Jadi, ada semacam pembentukan opini bahwa ekonomi yang kuat harus mempunyai mata uang yang juga kuat, dan demikian sebaliknya. Sebenarnya banyak faktor selain nilai tukar yang mempengaruhi kinerja perdagangan AS, termasuk perbaikan produktivitas, dan kurang relevan menilai "kekuatan" ekonomi hanya dalam suatu kurun-waktu yang relatif pendek.
Memang benar bahwa ekonomi AS diperkirakan masih akan baik dalam dua tahun mendatang, meskipun angka pertumbuhan GDP tahun ini akan sedikit turun. Proyeksi semacam ini mengasumsikan bahwa kenaikan tingkat bunga minggu ini bukan merupakan awal dari seri kenaikan yang akan berlangsung terus dalam bulan bulan mendatang. Juga benar bahwa ekonomi Jepang masih akan mengalami kesulitan dalam dua tahun mendatang. Namun, nilai kurs Yen/dolar seperti saat ini sudah "di luar" batas yang sering dianggap ekuilibrium (seimbang).
Umumnya, semua ahli yang hadir dalam pertemuan di PBB minggu ini sepakat bahwa nilai ekuilibrium adalah antara 110 dan 120 untuk Yen/dollar. Bahkan, penerima hadiah Nobel, Lawrence Klein, yang juga hadir dalam pertemuan di New York tersebut menyatakan secara pribadi kepada saya bahwa dengan kurs separti sekarang posisi neraca pembayaran AS akan kritis. Dia memperkirakan bahwa neraca perdagangan AS akan memburuk tahun ini. Waktu saya cek dengan angka kuartal pertama (dengan catatan bulan Maret belum berakhir), ternyata defisit perdagangan AS memang sudah memburuk. Jadi, dugaan Klein tepat.
Dari gambaran di atas saya cenderung memperkirakan bahwa kurs Yen/dolar akan bergerak kembali ke posisi yang lebih ekuilibrium tahun ini dan tahun depan. Angka perkiraan rata-rata untuk 1997 saya perkirakan sekitar 115 Yen/dolar. Professor Klein bahkan "berani" mengajukan angka antara 117-120. Dengan perkiraan ini, tidak terlalu salah kalau kita perkirakan bahwa dibandingkan dengan tahun lalu dalam dua tahun mendatang perdagangan dunia akan lebih baik.